
Keinginanku untuk menikah sudah diujung kepala. Rasanya aku ingin menikah esok hari juga. Entah apa yang dicari. Gaun pengantin indah berekor panjang, make up tebal yang membuat wajahmu tak seperti biasanya, alunan musik koor yang romantis, berjalan sambil menggadengnya di atas karpet yang ditaburi bunga-bunga, memandang wajahnya, dan menangis saat prosesi sungkem yang mengharukan. Menyanyikan lagu cinta berdua di depan keluarga dan kerabat, tertawa bahagia saat perayaan itu dimulai. Berbulan madu di sebuah pulau yang Indah, berpelukan di pinggir pantai, dan makan malam dengan lilin-lilin memenuhi meja yang hanya ada aku dan dia.
Memeluknya saat akan tidur, dan mengecup keningnya saat terbangun di pagi hari.
Memasakan sarapan untuknya, menyiapkan baju dan mencium tangannya saat dia akan pergi bekerja.
Membukakan pintu untuknya dan memberi kecupan hangat saat dia pulang, menyiapkan air hangat untuknya mandi, dan makan malam bersama.
Semua ini indah, tidak ada sedikitpun hal negatif terlintas di otakku tentang pernikahan. Bukankan pernikahan itu indah? Bukankah pernikahan itu sakral dan suci?
Semua saudaraku pun menikah dengan sangat mudah, dan mereka terlihat bahagia. Anak-anak yang manis, ekonomi yang mencukupi. Setiap minggu kita berkumpul bersama di rumah dan tidak ada satu hal pun dari pernikahan yang buruk. Keluarga itu indah.
Tapi kenapa sampai sekarang dia belum mengajakku menikah? Apa yang dipikirkannya lagi? Apa dia masih meragukan aku?
Kita sudah lama pacaran, keluarga sudah saling mengenal, dan bekal pekerjaan pun kita sudah punya. Apa lagi?
Aku lelah menunggu, menunggu janjinya untuk menikahku. Janji yang dia ucapkan sewaktu semuanya dia ambil. Saat itu semuanya terlihat lebih mudah. Tapi sudah hampir setahun aku menunggu, dan aku belum mempersiapkan bahkan hal yang terkecil sekalipun untuk pernikahan kita.
Aku juga sering mendengar waktu dia menjawab pertanyaan siapa pun yang menanyakan kapan kita akan menikah, dan dia selalu menjawab belum tau, nanti lah, kalian dulu lah. Dan entah kenapa saat aku mendengar itu aku merasa dunia ini akan berakhir secepatnya. Langit akan runtuh besok, bumi akan tenggelam dan matahari tidak akan bersinar.
Aku hanya melihat bayangan suram dari mataku dan aku akan segera bertanya untuk apa aku hidup.
Dua hari yang lalu aku mempersiapkan pernikahan saudara sepupu di Semarang, sejak keberangkatanku dari Jakarta aku sudah berpikir betapa bahagianya dia. Bahkan gaun yang dirancangnya sendiri itu sangat anggun, kebaya putih bermonte emas dan ekor yang membuat gaun kebaya itu terlihat mewah, walaupun modal yang dikeluarkan tak mahal. Aku melihat setiap detil hiasan di kepalanya, sanggul ala jawa tengah, dengan pernak pernik keemasan dan bunga bunga yang harum sekali. Setiap detil aku perhatikan karena aku tak mau ada satu hal pun yang terlewat ketika aku memakai sanggul saat pernikahanku nanti. Bunga-bunga itu dirajut dan disusun indah sekali, rangkaian melati yang harum di sematkan di sekeliling sanggul, dan melati yang berbentuk ekor menjulur di belakang sanggul. Sang dukun pengantin sepertinya sudah benar-benar menghapal tiap detilnya, tusuk konde keemasan di sematkan di tengah tengah sanggul, dan hiasan berbentuk seperti telinga kucing keemasan di sematkan di kedua sisi kepalanya kiri dan kanan. Tak lupa lukisan berbentuk gunung-gunung di dahi sang pengantin, dan lelehan tinta emas membingkai lukisan itu.
Sedangkan mempelai pria hanya menggunakan setelan jas. Tetapi terlihat gagah saat prosesi masuk ke gereja. Ini bagian yang paling aku suka. Musik dari paduan suara mengiringi langkah mereka berdua diatas karpet merah bertaburkan bunga menuju ke hadapan altar suci.
Tak sengaja air mataku menetes saat prosesi sungkeman, bibiku memeluk mempelai dengan sangat erat seakan tidak mau berpisah dan menangis, sepertinya bukan tangis kesedihan tetapi tangis haru.
Sayang aku hanya menikmati prosesi ini sendirian, pasanganku sedang sibuk mengabadikan peristiwa ini dengan kamera digital yang dia bawa dari Jakarta.
Padahal aku sangat berharap dia tersentuh dengan prosesi ini dan akan segera mengajakku menikah. Mungkin kurang menyentuh baginya.
Seusai pemberkatan dan sakramen pernikahan di gereja kami menuju ke rumah mempelai. Di depan rumah, lapangan komplek perumahan sudah disulap menjadi istana untuk raja dan ratu sehari ini. Hanya lapangan terbuka biasa, tetapi dihias dengan begitu apik sehingga terkesan sangat mewah. Mempelai berganti pakaian, sekarang mereka mengenakan baju adat basahan dari Jogjakarta, seperti kemben yang terbuka di bagian atas. Meskipun sedikit overweight, mempelai wanita dengan percaya diri naik ke pelaminan, dijemput dengan mempelai pria yang datang dari arah berlawanan dan ini menandakan prosesi adat jawa akan segera di mulai, di mulai dengan melempar janur ke arah pasangan mereka, membasuh kaki pengantin pria dengan air bunga, pemecahan telur, dan pemotongan tumpeng. Akhirnya pasangan itu duduk di pelaminan bersama dengan senyum merekah, seolah berkata akhirnya dia menjadi milikku selamanya.
Hatiku seolah terbang melihat senyuman mereka, dan anganku segera sampai ke langit tertinggi sehingga mempelai itu terlihat mirip seperti aku dan dia. Aku dan dia duduk di pelaminan. Ya Tuhanku…betapa bahagianya aku.
Malam ini aku berdoa, ya Tuhan tolong bukalah pintu hatinya karena aku ingin sekali menikah dengannya, Tuhan jangan biarkan aku menjalani hari-hari penuh dosa ini lebih lama, Tuhan aku ingin hidup bahagia dengannya. Aku ingin hidupku seturut jalan-Mu Tuhan, aku ingin mempunyai keluarga yang bahagia seperti saudara-saudaraku. Tuhan sedikit saja tunjukan kepadanya keinginanku yang sudah tak terbendung ini Tuhan, biarkan sisanya kehendak-Mu yang bekerja, jika memang dia yang terbaik untukku Tuhan, biarkan aku hidup dengannya, namun jika bukan itu kehendak-Mu, maka terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.
Dan aku tertidur dengan lelap karena bermacam prosesi ini sangat melelahkan tiupan pendingin ruangan di hotel berbintang ini dan selimut yang tebal akan membuatku tidur nyenyak malam ini.
Samara-samar aku mendengar suara gaduh, seorang pria berteriak dan suara wanita tua menangis, pria itu berkata :
“Dasar wanita murahan, tidakkah kamu tahu dulu aku menikahimu karena kau terus saja mendesakku, aku tak sanggup melawan orang tuaku yang selalu mendukungmu,”
“Tidakkah kau mencintaiku sedikit pun? Aku telah memberikan semua yang ku punya bahkan jauh sebelum aku menikah,” jawab wanita itu dengan tangisan.
“Cinta? Kau kira apa itu cinta? Kau hanyalah seperti pelacur di pinggiran jalan yang menyodorkan tubuhmu, pria mana yang tahan melihatnya,”
“Tetapi aku sungguh mencintaimu hingga aku mau memberikan semua milikku kepadamu, percayalah, dan ini hanya masalah uang, kau bisa ambil berapapun yang kau mau, aku akan bekerja sampai tengah malam jika kau mau, aku akan mengurus kebutuhanmu dan anak-anak kita tapi aku mohon jangan pergi dengannya,”
“Aku tak butuh uang, aku bisa mendapatkannya dengan mudah, aku hanya butuh seseorang yang bisa mengisi kekosongan hatiku selama beberapa tahun ini, dan ini tidak mudah bagiku, aku harap kamu mengerti,”
Kelelahan wanita itu menjawab “Tidakkah kamu memikirkan bagaimana masa depan anak-anakmu?”
Dan pria itu menjawab : “Tadi kau bilang sendiri kau akan mengurus mencari uang dan mengurus anak-anakmu, maka apa yang harus aku pikirkan lagi?”
Lalu pria itu pergi meninggalkan wanita yang masih menagis itu.
Mendengar derap langkah pria itu meninggalkan ruangan aku pun berjalan keluar kamar, melihat apa yang terjadi, ya Tuhan ada apa ini, ibuku? Kenapa dia? Dia menjerit kesakitan, dan ya ampun, dahinya memerah dan hanya ada dia dan sebuah helm di sampingnya, sepertinya ayah melemparnya dengan helm itu hingga dahi ibu memar, aku tak bisa berkata apa pun, sepatah kata pun dan aku hanya memeluknya, erat sekali seperti kita tidak pernah berjumpa beberapa tahun lamanya, dan aku mendekapnya dalam dadaku, aku ingin dia merasa aman, aku ingin dia merasa hangat dan tidak akan aku biarkan seorang pun mendekatinya kecuali aku, karena aku tau mereka akan menyakitinya.
Kurang lebih setengah jam aku membiarkannya dalam pelukanku, dan menyelesaikan tangisannya. Ibuku terdiam, dan aku bepikir ini saat yang tepat untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi tadi, aku buka pelukanku yang erat dan tetesan air mata yang hangat masih terasa di sudut-sudut lenganku, aku ingin memandang wajah ibuku karena aku sangat merindukannya, melebihi aku merindukan air waktu aku kehausan, aku seperti menemukan berlian di padang gurun ketika aku menangkap wajahnya dan dahiku berkerenyit, kenapa wajah ibu pucat sekali, dingin dan kaku, dan kenapa tiba-tiba banyak orang berpakaian hitam yang datang, kenapa banyak bunga disini dan bau-bau kemenyan gereja? Kenapa ibuku tidur di dalam kotak? Bukankah dia seharusnya tidur di ranjangnya yang empuk?
Ibuku, aku bingung ada apa ini? Ibu tolong bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?
Aku bertanya pada bibiku tetapi dia tidak menjawab, dia hanya diam saja, sepupu-sepupuku pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika aku mengguncang badannya, berharap dia mau menjelaskan kepadaku.
Aku pergi keluar rumah, aku mau mencari ayahku mungkin dia tahu jawabannya, aku berlari menuju ke jalan raya dan berusaha mengejar motor ayahku yang melaju kencang menjauh, namun aku terjatuh karena kelelahan.
Aku terbangun, sepupuku membukakan tirai jendela sehingga sinar matahari masuk dari celah-celah teralis berwarna perunggu.
“Kau tidur lelap sekali, pasti kau sangat kelelahan, aku bahkan tak tega membangunkanmu untuk sarapan,” kata Putri, saudara sepupuku.
“Oh iya? Bahkan aku tak sadar kalau aku sedang tidur, sepertinya aku baru berlari jauh sekali, dan sekarang aku kelelahan,”
“Bagaimana bisa seseorang kelelahan setelah ia tidur cukup lama? Ada-ada saja kau, sekarang pergilah ke bawah, lihat apakah masih ada tersisa sesuatu untuk kau makan”
Hati-hati aku membuka pintu kamar hotel, karena aku berjaga-jaga ada sesuatu mengejutkan lagi di balik pintu itu, dan dia sudah ada di depan kamar, kamarnya berhadapan dengan kamarku, dan dia menungguku di depan daun pintu, dan dia menggandengku ke arah lift sambil menutup hidungnya, spontan aku kecup halus pipinya yang harum, karena dia sudah mandi sedangkan aku belum.
Sambil menikmati nasi goreng yang sudah dingin dengan topping telur ceplok yang juga sudah dingin, aku memandangi wajahnya yang tampan, walaupun di seluruh dunia ini hanya aku yang memujanya dan memberi predikat tampan. Aku sadar aku sangat mencintainya, sangat mencintainya hingga aku merasakan cinta itu sampai ke ujung bulu-bulu halus ditanganku, sampai butir-butir nasi dingin yang melewati lambungku terasa hangat, memenuhi tubuhku. Aku sangat mencintainya hingga aku akan selalu siap menunggunya sampai kapan pun dia minta aku untuk menunggunya. Aku akan terus menunggunya sampai kapan pun dan tak pernah terpikirkan olehku sebentar saja untuk meninggalkannya.
Aku juga sadar ibuku sangat mencintai aku, meskipun sudah dua tahun yang lalu dia pergi, tetapi dia tak pernah meninggalkanku, dan kasih Tuhan kepadaku tak pernah kuragukan lagi, jawaban Tuhan akan datang, mungkin akan sedikit terlambat tetapi Dia tak pernah melupakannya, janji-Nya akan selalu ku nanti, sampai kapan pun Dia mau memakai hidupku ini.
Memeluknya saat akan tidur, dan mengecup keningnya saat terbangun di pagi hari.
Memasakan sarapan untuknya, menyiapkan baju dan mencium tangannya saat dia akan pergi bekerja.
Membukakan pintu untuknya dan memberi kecupan hangat saat dia pulang, menyiapkan air hangat untuknya mandi, dan makan malam bersama.
Semua ini indah, tidak ada sedikitpun hal negatif terlintas di otakku tentang pernikahan. Bukankan pernikahan itu indah? Bukankah pernikahan itu sakral dan suci?
Semua saudaraku pun menikah dengan sangat mudah, dan mereka terlihat bahagia. Anak-anak yang manis, ekonomi yang mencukupi. Setiap minggu kita berkumpul bersama di rumah dan tidak ada satu hal pun dari pernikahan yang buruk. Keluarga itu indah.
Tapi kenapa sampai sekarang dia belum mengajakku menikah? Apa yang dipikirkannya lagi? Apa dia masih meragukan aku?
Kita sudah lama pacaran, keluarga sudah saling mengenal, dan bekal pekerjaan pun kita sudah punya. Apa lagi?
Aku lelah menunggu, menunggu janjinya untuk menikahku. Janji yang dia ucapkan sewaktu semuanya dia ambil. Saat itu semuanya terlihat lebih mudah. Tapi sudah hampir setahun aku menunggu, dan aku belum mempersiapkan bahkan hal yang terkecil sekalipun untuk pernikahan kita.
Aku juga sering mendengar waktu dia menjawab pertanyaan siapa pun yang menanyakan kapan kita akan menikah, dan dia selalu menjawab belum tau, nanti lah, kalian dulu lah. Dan entah kenapa saat aku mendengar itu aku merasa dunia ini akan berakhir secepatnya. Langit akan runtuh besok, bumi akan tenggelam dan matahari tidak akan bersinar.
Aku hanya melihat bayangan suram dari mataku dan aku akan segera bertanya untuk apa aku hidup.
Dua hari yang lalu aku mempersiapkan pernikahan saudara sepupu di Semarang, sejak keberangkatanku dari Jakarta aku sudah berpikir betapa bahagianya dia. Bahkan gaun yang dirancangnya sendiri itu sangat anggun, kebaya putih bermonte emas dan ekor yang membuat gaun kebaya itu terlihat mewah, walaupun modal yang dikeluarkan tak mahal. Aku melihat setiap detil hiasan di kepalanya, sanggul ala jawa tengah, dengan pernak pernik keemasan dan bunga bunga yang harum sekali. Setiap detil aku perhatikan karena aku tak mau ada satu hal pun yang terlewat ketika aku memakai sanggul saat pernikahanku nanti. Bunga-bunga itu dirajut dan disusun indah sekali, rangkaian melati yang harum di sematkan di sekeliling sanggul, dan melati yang berbentuk ekor menjulur di belakang sanggul. Sang dukun pengantin sepertinya sudah benar-benar menghapal tiap detilnya, tusuk konde keemasan di sematkan di tengah tengah sanggul, dan hiasan berbentuk seperti telinga kucing keemasan di sematkan di kedua sisi kepalanya kiri dan kanan. Tak lupa lukisan berbentuk gunung-gunung di dahi sang pengantin, dan lelehan tinta emas membingkai lukisan itu.
Sedangkan mempelai pria hanya menggunakan setelan jas. Tetapi terlihat gagah saat prosesi masuk ke gereja. Ini bagian yang paling aku suka. Musik dari paduan suara mengiringi langkah mereka berdua diatas karpet merah bertaburkan bunga menuju ke hadapan altar suci.
Tak sengaja air mataku menetes saat prosesi sungkeman, bibiku memeluk mempelai dengan sangat erat seakan tidak mau berpisah dan menangis, sepertinya bukan tangis kesedihan tetapi tangis haru.
Sayang aku hanya menikmati prosesi ini sendirian, pasanganku sedang sibuk mengabadikan peristiwa ini dengan kamera digital yang dia bawa dari Jakarta.
Padahal aku sangat berharap dia tersentuh dengan prosesi ini dan akan segera mengajakku menikah. Mungkin kurang menyentuh baginya.
Seusai pemberkatan dan sakramen pernikahan di gereja kami menuju ke rumah mempelai. Di depan rumah, lapangan komplek perumahan sudah disulap menjadi istana untuk raja dan ratu sehari ini. Hanya lapangan terbuka biasa, tetapi dihias dengan begitu apik sehingga terkesan sangat mewah. Mempelai berganti pakaian, sekarang mereka mengenakan baju adat basahan dari Jogjakarta, seperti kemben yang terbuka di bagian atas. Meskipun sedikit overweight, mempelai wanita dengan percaya diri naik ke pelaminan, dijemput dengan mempelai pria yang datang dari arah berlawanan dan ini menandakan prosesi adat jawa akan segera di mulai, di mulai dengan melempar janur ke arah pasangan mereka, membasuh kaki pengantin pria dengan air bunga, pemecahan telur, dan pemotongan tumpeng. Akhirnya pasangan itu duduk di pelaminan bersama dengan senyum merekah, seolah berkata akhirnya dia menjadi milikku selamanya.
Hatiku seolah terbang melihat senyuman mereka, dan anganku segera sampai ke langit tertinggi sehingga mempelai itu terlihat mirip seperti aku dan dia. Aku dan dia duduk di pelaminan. Ya Tuhanku…betapa bahagianya aku.
Malam ini aku berdoa, ya Tuhan tolong bukalah pintu hatinya karena aku ingin sekali menikah dengannya, Tuhan jangan biarkan aku menjalani hari-hari penuh dosa ini lebih lama, Tuhan aku ingin hidup bahagia dengannya. Aku ingin hidupku seturut jalan-Mu Tuhan, aku ingin mempunyai keluarga yang bahagia seperti saudara-saudaraku. Tuhan sedikit saja tunjukan kepadanya keinginanku yang sudah tak terbendung ini Tuhan, biarkan sisanya kehendak-Mu yang bekerja, jika memang dia yang terbaik untukku Tuhan, biarkan aku hidup dengannya, namun jika bukan itu kehendak-Mu, maka terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.
Dan aku tertidur dengan lelap karena bermacam prosesi ini sangat melelahkan tiupan pendingin ruangan di hotel berbintang ini dan selimut yang tebal akan membuatku tidur nyenyak malam ini.
Samara-samar aku mendengar suara gaduh, seorang pria berteriak dan suara wanita tua menangis, pria itu berkata :
“Dasar wanita murahan, tidakkah kamu tahu dulu aku menikahimu karena kau terus saja mendesakku, aku tak sanggup melawan orang tuaku yang selalu mendukungmu,”
“Tidakkah kau mencintaiku sedikit pun? Aku telah memberikan semua yang ku punya bahkan jauh sebelum aku menikah,” jawab wanita itu dengan tangisan.
“Cinta? Kau kira apa itu cinta? Kau hanyalah seperti pelacur di pinggiran jalan yang menyodorkan tubuhmu, pria mana yang tahan melihatnya,”
“Tetapi aku sungguh mencintaimu hingga aku mau memberikan semua milikku kepadamu, percayalah, dan ini hanya masalah uang, kau bisa ambil berapapun yang kau mau, aku akan bekerja sampai tengah malam jika kau mau, aku akan mengurus kebutuhanmu dan anak-anak kita tapi aku mohon jangan pergi dengannya,”
“Aku tak butuh uang, aku bisa mendapatkannya dengan mudah, aku hanya butuh seseorang yang bisa mengisi kekosongan hatiku selama beberapa tahun ini, dan ini tidak mudah bagiku, aku harap kamu mengerti,”
Kelelahan wanita itu menjawab “Tidakkah kamu memikirkan bagaimana masa depan anak-anakmu?”
Dan pria itu menjawab : “Tadi kau bilang sendiri kau akan mengurus mencari uang dan mengurus anak-anakmu, maka apa yang harus aku pikirkan lagi?”
Lalu pria itu pergi meninggalkan wanita yang masih menagis itu.
Mendengar derap langkah pria itu meninggalkan ruangan aku pun berjalan keluar kamar, melihat apa yang terjadi, ya Tuhan ada apa ini, ibuku? Kenapa dia? Dia menjerit kesakitan, dan ya ampun, dahinya memerah dan hanya ada dia dan sebuah helm di sampingnya, sepertinya ayah melemparnya dengan helm itu hingga dahi ibu memar, aku tak bisa berkata apa pun, sepatah kata pun dan aku hanya memeluknya, erat sekali seperti kita tidak pernah berjumpa beberapa tahun lamanya, dan aku mendekapnya dalam dadaku, aku ingin dia merasa aman, aku ingin dia merasa hangat dan tidak akan aku biarkan seorang pun mendekatinya kecuali aku, karena aku tau mereka akan menyakitinya.
Kurang lebih setengah jam aku membiarkannya dalam pelukanku, dan menyelesaikan tangisannya. Ibuku terdiam, dan aku bepikir ini saat yang tepat untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi tadi, aku buka pelukanku yang erat dan tetesan air mata yang hangat masih terasa di sudut-sudut lenganku, aku ingin memandang wajah ibuku karena aku sangat merindukannya, melebihi aku merindukan air waktu aku kehausan, aku seperti menemukan berlian di padang gurun ketika aku menangkap wajahnya dan dahiku berkerenyit, kenapa wajah ibu pucat sekali, dingin dan kaku, dan kenapa tiba-tiba banyak orang berpakaian hitam yang datang, kenapa banyak bunga disini dan bau-bau kemenyan gereja? Kenapa ibuku tidur di dalam kotak? Bukankah dia seharusnya tidur di ranjangnya yang empuk?
Ibuku, aku bingung ada apa ini? Ibu tolong bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?
Aku bertanya pada bibiku tetapi dia tidak menjawab, dia hanya diam saja, sepupu-sepupuku pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika aku mengguncang badannya, berharap dia mau menjelaskan kepadaku.
Aku pergi keluar rumah, aku mau mencari ayahku mungkin dia tahu jawabannya, aku berlari menuju ke jalan raya dan berusaha mengejar motor ayahku yang melaju kencang menjauh, namun aku terjatuh karena kelelahan.
Aku terbangun, sepupuku membukakan tirai jendela sehingga sinar matahari masuk dari celah-celah teralis berwarna perunggu.
“Kau tidur lelap sekali, pasti kau sangat kelelahan, aku bahkan tak tega membangunkanmu untuk sarapan,” kata Putri, saudara sepupuku.
“Oh iya? Bahkan aku tak sadar kalau aku sedang tidur, sepertinya aku baru berlari jauh sekali, dan sekarang aku kelelahan,”
“Bagaimana bisa seseorang kelelahan setelah ia tidur cukup lama? Ada-ada saja kau, sekarang pergilah ke bawah, lihat apakah masih ada tersisa sesuatu untuk kau makan”
Hati-hati aku membuka pintu kamar hotel, karena aku berjaga-jaga ada sesuatu mengejutkan lagi di balik pintu itu, dan dia sudah ada di depan kamar, kamarnya berhadapan dengan kamarku, dan dia menungguku di depan daun pintu, dan dia menggandengku ke arah lift sambil menutup hidungnya, spontan aku kecup halus pipinya yang harum, karena dia sudah mandi sedangkan aku belum.
Sambil menikmati nasi goreng yang sudah dingin dengan topping telur ceplok yang juga sudah dingin, aku memandangi wajahnya yang tampan, walaupun di seluruh dunia ini hanya aku yang memujanya dan memberi predikat tampan. Aku sadar aku sangat mencintainya, sangat mencintainya hingga aku merasakan cinta itu sampai ke ujung bulu-bulu halus ditanganku, sampai butir-butir nasi dingin yang melewati lambungku terasa hangat, memenuhi tubuhku. Aku sangat mencintainya hingga aku akan selalu siap menunggunya sampai kapan pun dia minta aku untuk menunggunya. Aku akan terus menunggunya sampai kapan pun dan tak pernah terpikirkan olehku sebentar saja untuk meninggalkannya.
Aku juga sadar ibuku sangat mencintai aku, meskipun sudah dua tahun yang lalu dia pergi, tetapi dia tak pernah meninggalkanku, dan kasih Tuhan kepadaku tak pernah kuragukan lagi, jawaban Tuhan akan datang, mungkin akan sedikit terlambat tetapi Dia tak pernah melupakannya, janji-Nya akan selalu ku nanti, sampai kapan pun Dia mau memakai hidupku ini.
0 comments:
Post a Comment