
Everyday, everytime i go to office in the morning with my motor cycle, everytime i left my office going back to home, i can't hardly never find a disaster called traffic jam.
Gw sering berdiskusi dengan pacar..Apa sih sebenernya penyebab kemacetan...
Dengan prediksi kasar kita menyimpulkan :
1. Penduduk di Jakarta udah kebanyakan.
2. Pengguna lalu lintas tidak menaati peraturan it causes
3. Tidak tertibnya lalu lintas, and the winner goes to
4. Banyak sekali pengguna mobil pribadi T__________T
Tapi ternyata prediksi kita berdua ga bego-bego amat...
I've tried to find some data from another source. And most of them said that the high sales of cars and motor cycles is an irony of the cramped road condition in Jakarta.
Sempet ngerasa bersalah karena gw salah satu penyumbang kemacetan dengan punya sepeda motor sendiri, tapi sedikit terhibur dengan ukuran sepeda motor yg ga seluas mobil2 itu..
Bayangkan saja hingga hari ke-7, Jumat (30/7), penjualan mobil di JIExpo, menembus 5.000 unit.
Angka itu adalah 70% dari total target penjualan, yaitu 7.000 unit selama 10 hari penyelenggaraan, dengan target transaksi Rp 2 triliun.
Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kemacetan di Jakarta bertambah parah karena meningkatnya jumlah mobil sebanyak 300 unit per hari dan sepeda motor 800 unit per harinya. Bbbrrrr....
Pertumbuhan penggunaan mobil 10% per tahun dan motor 15% per tahun, tidak diimbangi pertumbuhan luas jalan di Jakarta, yang hanya 0,01% per tahun. Bayangkan panjang jalan di Jakarta sebesar 7.650 km dengan luas jalan 40,1 km, atau 0,26% dari wilayah Jakarta seluas 662 kilometer. Kondisi ini jelas tidak sebanding dengan tingginya angka perjalanan.
Bahkan sebuah hitung - hitungan matematis menunjukkan, jika kondisi ini terus berlanjut, Jakarta akan macet total pada 2015 mendatang. Kajian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengungkapkan, saat ini kecepatan laju kendaraan di Ibukota hanya 10-15 km/jam. Dengan penurunan kecepatan 1 km/jam/tahun, maka pada 2015 akan menjadi 5-10 km/jam. Ditambah rambu-rambu yang ada, maka Jakarta akan macet total.
Dan lebih luas lagi ternyata kemacetan juga punya banyak pengaruh negatif di berbagai sektor. Akibat kemacetan ini, sektor usaha di rugikan hingga mencapai Rp 12,8 triliun pertahun. Ga cuma itu. Seorang pakar UI juga bilang, kerugian masyarakat mencapai Rp 28,1 triliun per tahun, dimana BBM yang terbuang mencapai Rp 10,7 triliun, waktu produktif yang hilang senilai Rp 9,7 triliun dan kerugian pemilik angkutan Rp 1,9 triliun. Kerugian kesehatan pun mencapai Rp 5,8 triliun, mengingat kemacetan menyumbang polusi udara tertinggi di Jakarta, sekitar 90%.
Hal ini memang bukan sepenuhnya kesalahan dari Pengusaha Otomotif yang juga semakin gencar menawarkan produk-produknya, bahkan mereka mengklaim kalo pemerintah yang tidak mampu membangun jalan yang lebih lebar di Jakarta. Mereka ga mau disalahkan karena menurut mereka kemacetan terjadi karena pembangunan jalan yang tersendat ga sebanding dengan besarnya penjualan kendaraan di Jakarta.
Tapi ga begitu menurut kita...
Kenapa di negara-negara "sempit" seperti Singapura, Jepang, kayaknya ga pernah macet?
Coba bayangkan kalau setiap 1 anggota keluarga punya mobil pribadi, ayah 1, ibu 1, anak 1..setiap orang bawa mobil ke kantor atau sekolah, gimana ga penuh tu Jakarta.
Setiap hari minggu sehabis pulang dari gereja gw menyempatkan nonton Crayon Shincan dirumah sambil nyuapin Si Siska, Sepupu gw yg masih kecil. Dari keluarga Nohara gw melihat, mereka punya mobil, tapi ayah Shincan ke kantor naik kereta, Shincan ke sekolah pakai bis sekolah, dan mama Shincan belanja pakai sepeda. Mobil hanya mereka pakai kalau akan rekreasi di hari libur atau weekend.
Dan betapa indahnya Jakarta kalau semua keluarga bisa begitu.
Jalanan ga macet, asep ga bertebaran di mana-mana, hemat bahan bakar, udara segar, badan sehat, kapan ya Jakarta bisa begitu.
Di sisi lain kondisi transportasi umum di Jakarta lumayan parah "banget".
1. Angkot = supirnya ugal-ugalan, berhenti seenaknya, membuat orang2 yg naik angkot berasa naik kora-kora di dufan, walaupun kondisi mobilnya sedikit lebih baik. Tapi dapat dipastikan dengan guncangan angkot yang dasyat seorang ibu hamil bisa melahirkan sebelum waktunya.
2. Metro Mini dan Kopaja = Sumpah 2 hal ini adalah musuh terbesar gw di jalanan. Asepnya ga kira-kira, supirnya ugal-ugalan berasa di Sirkuit Sentul kali tu supir, pas hujan bocor dimana-mana, lantai bus bolong-bolong, banyak copet, kursi karatan berdencit, kalo gw bilang bener-bener ga layak idup di dunia..
3. Bus Kota = lebih mendingan dari pada MM dan Kopaja, apalagi yang patas AC..tapi jangan harap bisa tidur nyaman dalam bus kalo ga ber AC, itu sepertinya bus2 bekas dari Jepang yang dikirim ke Indonesia, atau bus buatan Jepang yg udah ratusan taun mengabdi di Indonesia..sekali lagi..ga layak pakai...
4. Bajaj = Musuh ke-2 setelah MM dan Kopaja, ga mau berkomentar takut dosa karena terlalu banyak yg mau dicaci maki dari sebuah Bajaj.
5. Busway = sebenernya ide pembuatan busway itu menurut gw brilliant bgt..kondisi bus yang ok, adanya jalur khusus, pemakaian BBG (Bahan Bakar Gas) yang meminimalisir polusi, dan fasilitas yg baik. tapi kenapa banyak pihak yang protes yah?!
Sterilisasi jalur khusus busway menuai beberapa argumen dr pihak yang "maunya serba cepet tp ga peduli aturan" and I called them "selfish".
Hey?! sadar ga siih..bukan busway dan jalurnya yg buat maceeet...tp kendaraan dan orang yg udah kebanyakan di Jakarta... -________-
Saking setresnya pemerintah mengatasi kemacetan sampai2 ada wacana pemindahan Ibukota ke Kalimantan..No comment about that but actually there's a simple way, cara yg lebih simple bisa dengan memperbaiki kondisi transportasi umum, sehingga orang2 tertarik untuk memakai kendaraan umum, dan menyimpan mobilnya di rumah.
Anggaran yang terlalu besar??!! Ambil aja dari gaji anggota DPR yang membolos..
Potong gajinya, sumbangin untuk perbaikan transportasi umum...wuakakakak...
0 comments:
Post a Comment